Wabah PMK Meluas, Bantuan Vaksin untuk Petani Nol

Selasa, 21 Juni 2022 14:08 WIB
Reporter : Redaksi

 

 

NGANJUK, Abdirakyat.com –  Impian peternak sapi dan kambing  untuk mendapatkan bantuan vaksin atau obat obatan yang sejenis  untuk hewan yang terkena virus PMK tampaknya gak bakal  terwujud.

Itu seperti disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Judi Ernanto bahwa sampai saat ini belum ada persediaan vaksin atau obat obatan untuk diperbantukan kepada para petani. 

Upaya sementara yang bisa dilakukan dinas masih sebatas sosialisasi, edukasi juga memerintahkan petugas lapang untuk lebih intens turun ke lapangan.

“Untuk bantuan vaksin sampai sekarang  belum ada. Kita berupaya sondingkan kepada kadis pertanian propensi saat ada kunjungan gubernur kemarin ,” terangnya.

Yang pasti masih kata Judi Ernanto untuk APBD Nganjuk tidak tersedia alokasi anggaran untuk belanja barang berupa vaksin atau obat obatan.

“Kami masih ajukan ke propensi,”tandasnya.

Dari data yang masuk ke dinas lebih lanjut disampaikan Judi Ernanto jumlah hewan jenis sapi yang sudah dinyatakan sembuh terus mengalami peningkatan cukup signifikan.

“Data laporan dari petugas lapang kami mencapai seribu ekor sapi dinyatakan sembuh dari penyakit mulut dan kaki,” lanjutnya.

Namun demikian masih ditandaskan kepala Disperta kita terus monitoring kelapangan untuk memberi pengarahan langsung kepada petani.

Untuk diketahui bahwa dari hasil pantauan dilapangan daftar kasus PMK di sejumlah tempat tampaknya masih banyak. Realitanya seperti yang terjadi di Desa Kalianyar, Ngronggot ratusan ekor sapi mengalami kelumpuhan atau tidak bisa berdiri. Sebagian ada yang kehilangan nafsu makan karena mulutnya terinfeksi virus yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya.

Kasus itu seperti dialami Jumari warga RT 09 RW 05 Desa Kalianyar Kecamatan Ngronggot mengaku kepada wartaean bahwa sebanyak 8 ekor sapi miliknya semuanya tidak bisa berdiri karena pada kaki bagian  kuku terinfeksi virus. Termasuk pada mulut sapi juga mengeluarkan lendir sehingga berdampak mengurangi nafsu makan.

“Satu ekor sudah saya jual dalam bentuk daging laku 4 juta , Sebelum mati disembelih dulu sama blantik,” aku Jumari saat ditemui dirumahnya.

Ditanya seputar obat , Jumari menjelaskan beragam jenis obat sudah dibeli. Termasuk memanggil mantri hewan juga sudah berulangkali.

“Tapi hasilnya masih belum memuaskan,” akunya.

Untuk membeli dan memilih obat menuurut Jumari atas inisiatif sendiri tidak ada arahan dari petugas lapang. (adi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

bannera
iklan-besar-fix

Berita Terpopuler

Berita Teknologi

Berita Politik

bannera

Berita Ekonomi